TANJAB BARAT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Tanjung Jabung Barat tidak main-main. Menyadari risiko tersebut, Pemkab Tanjab Barat melalui BPBD_declare_ "siaga satu". Bukan sekadar wacana, pemerintah daerah dan pusat mengucurkan dana fantastis senilai hampir Rp9 miliar untuk membiayai "perang" melawan api di musim kemarau tahun ini.
Kepala BPBD Tanjab Barat, Samsuhadi, S.E., mengungkapkan bahwa kesiapan tahun ini jauh lebih matang. Kombinasi antara APBD murni dan Bantuan Presiden (Banpres) untuk percepatan penanganan Karhutla menjadi modal besar daerah ini.
"Total dukungan anggaran yang kami kelola mencapai Rp8.841.345.000. Rinciannya, Rp120,4 juta dari APBD dan sisanya sebesar Rp8,72 miliar merupakan Bantuan Presiden. Ini sinyal serius bahwa pusat dan daerah satu visi: Tanjab Barat harus bebas dari bencana asap," ujar Samsuhadi, Selasa (13/10/2026).
Armada 'Kuda Besi' Siap Melintas
Anggaran miliaran rupiah tersebut tidak hanya habis untuk administrasi, melainkan dikonversi menjadi aset mobilitas tinggi. Samsuhadi memaparkan, BPBD kini memiliki "taring" baru di lapangan berupa armada khusus yang dirancang untuk menaklukkan medan sulit.
"Kami siapkan tiga unit kendaraan roda empat (R4) jenis rantis, satu unit R3, dan delapan unit roda dua (R2) jenis rantis. Armada ini didesain lincah menjangkau titik-titik api yang mungkin sulit dilalui kendaraan biasa," tambahnya.
Kehadiran armada taktis ini diharapkan memangkas waktu respons (response time) tim pemadam saat api mulai membesar, sebelum sempat melahap hektare lahan gambut dan hutan.
Kolaborasi Lintas Sektor dengan Skema 'On-Call'
Keunikan dari strategi BPBD Tanjab Barat tahun ini adalah skema operasional yang melibatkan "pasukan gabungan". TNI, Polri, Damkar, hingga Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) dilibatkan dalam satu komando.
Namun, Samsuhadi menekankan adanya efisiensi anggaran yang cerdas. Pembayaran operasional untuk alat berat dan dinas terkait menggunakan skema berbasis kinerja atau kejadian (*on-call*).
"Sistemnya pay per event. Jika ada api, alat berat dan personel bergerak, biaya operasional cair sesuai realisasi. Jika aman, tidak ada pemborosan. Ini memastikan setiap rupiah dari Bantuan Presiden benar-benar terpakai untuk penanganan di lapangan, bukan habis di meja," tegasnya.
Tantangan Berat Menanti
Dengan sumber daya manusia yang siap dan armada yang mumpuni, Samsuhadi mengajak seluruh elemen masyarakat Tanjab Barat untuk menjadi "mata dan telinga" di lapangan.
"Alat secanggih apa pun tidak akan berarti tanpa kepedulian warga. Jangan bakar lahan, sekecil apa pun. Mari kita jaga paru-paru dunia di Jambi ini bersama-sama," tutupnya.
Dengan persiapan matang dan dukungan anggaran yang belum pernah ada sebelumnya, masyarakat Tanjab Barat kini menaruh harapan besar: musim kemarau 2026 akan berlalu tanpa harus menghirup pahitnya asap.
Penulis: Andi Editor: Raden Denni








